Asap kabut menyelimuti bumi, aras menjadi panik. Matahari terasa semakin dekat. Bumi memang sedang memanggang dirinya. Bulan makin susah terlihat, begitu sabit. Titik api terlihat di sekujur bumi. Walah, penghuni khayangan menjadi panik.Baladewa turun ke bumi, memantau dengan mata api, di mana telaga-telaga ? tempat para bidadari turun dari bianglala,…Ou, mata seorang dewa pedih, tertancap abu dari telaga. Melesat cepat sang dewa kembali ke aras. Anak manusia mana sebegitu kurang ajar membuat bumi terpanggang ? Apakah Yang Maha Kuasa penyebabnya, Waduh,.. takdir siapa percaya ?
Sekilas yang lalu, para dewa menghirup kiriman udara bersih bumi, para bidadari menikmati sengeng (sunset) di telaga-telaga segar bumi. Selendang mayang panjang sembilannya berwarna-warni membusur di angkasa.
Anak-anak manusia bercengkrama, petani menanam dan menuai. Padi melambai dan menunduk, bujang dan gadis ribang-ribangan, lesung selalu berbunyi dihantam antan, guhong gemercik. Sang Kemare datang dengan khabar baik, tatanan sosial teratur seimbang, hukum berkuasa, tunjuk salah tunjuk ditetak, Oh, tak ada manusia memakan manusia. Bayi-bayi menangis secara wajar, ketika lapar minta susu. Menangis bukan karena terpanggang, dan buah dada ibunya pun tak lagi berisi. Kemarau begitu panjang.

